Kini Petani Dapat Rasakan Manfaat Asuransi Pertanian

KATACARA, JOMBANG – Kementerian Pertanian tidak pernah berhenti mengajak petani mengasuransikan lahan untuk menjaga produktivitas pertanian. Manfaat dari asuransi sendiri sudah dirasakan petani di Jombang, Jawa Timur.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, mengatakan asuransi akan membantu menjaga produktivitas pertanian.

“Dengan asuransi, produksi pertanian tidak akan terganggu. Petani yang tanamannya rusak, bisa kembali menanam jika mengasuransikan lahanya,” tutur Mentan SYL, Selasa (8/6/2021).

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Ali Jamil, menjelaskan jika asuransi sangat dibutuhkan.

“Asuransi adalah bagian dari mitigasi bencana yang akan menjaga lahan dari perubahan iklim, cuaca ekstrim, bencana alam, juga serangan OPT dan dampak perubahan iklim,” jelasnya.

Dengan mengasuransikan lahan, sambung Ali, petani tidak akan menderita kerugian.

Direktur Pembiayaan Ditjen PSP Kementan, Indah Megahwati, mengatakan asuransi memiliki pertanggungan yang bisa dimanfaatkan petani.

“Dari premi yang dibayarkan petani, pihak asuransi bisa mengeluarkan pertanggungan yang dapat dimanfaatkan sebagai modal untuk tanam kembali. Inilah yang membuat petani tidak akan menderita kerugian meski gagal panen,” terangnya.

Manfaat asuransi inilah yang dirasakan petani asal Jombang, Mukadis. Ia tetap mampu bangkit bercocok tanam usai gagal panen lantaran sawah bidang garapnya diterjang banjir.

“Kemarin itu memang pernah kejadian banjir, itu memang puso, gagal panen,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani dari Dusun Gondangmanis, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang.

Mukadis mengaku sedikit bisa bernafas lega walaupun terkena dampak bencana tersebut. Dia mendapatkan pertanggungan asuransi pertanian dari Jasindo.

“Itu sangat membantu karena watu itu petani sudah maksimal biaya sendiri. Kami menunggu panen toh akhirnya gagal,” ucapnya.

“Ganti rugi dari asuransi itu bisa untuk garap lagi, walaupun masih kurang, tetapi mafaatnya untuk biaya lagi, biaya tanam padi lagi, kita kembalikan ke sawah lagi,” ujar Mukadis.

Mukadis menyampaikan, empat hektar sawahnya yang ditanami padi hampir 80 persen gagal panen akibat diterjang banjir. Namun untungnya, dia mengikuti AUTP.

“Dari segi keuntungan, asuransi itu sangat membantu petani. Kemarin yang dijadikan percontohan itu ada lima kelompok tani dan yang mengalami gagal panen ada empat kelompok. Jadi kalau ditotal, kurang lebih sekitar 100 hektar sawah yang terdampak banjir,” ucapnya.

Mukadis mengungkapkan, dirinya mendapatkan pertanggungan asuransi tersebut berupa uang tunai senilai Rp 6 juta rupiah per hektare dan diterima kirimkan ke rekening kelompok.

“Saya dapat Rp 6 juta per hektare. Waktu disurvei, dari empat hektare yang terdapat ternyata yang memenuhi syarat untuk diklaimkan hanya tiga hektare. Jadi tiga hektare dikalikan enam hektere (6 juta per hektar) sehingga menjadi Rp 18 juta rupiah. Biaya itu untuk tambahan tanam padi lagi,” ujarnya.

Mukadis menjelaskan, untuk premi yang dibayarkan, para petani mendapatkan bantuan pembayaran premi dari pemerintah.

“Premi per musim itu Rp 36 ribu per hektare, sebetulnya Rp 180 ribu per hektare, cuma ada bantuan dari pemerintah Rp 144 ribu,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan